Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wirausaha. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Oktober 2010

Bob Sadino



Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama : Islam

Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)

Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Pengusaha Berdinas Celana Pendek


Pria berpakaian ''dinas'' celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.

Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ''Hati saya ikut hancur,'' kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ''Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.''

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ''warung'' shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

''Saya hidup dari fantasi,'' kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ''Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,'' kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bob-sadino/index.shtml

Kamis, 07 Oktober 2010

Anjar Hardiena

Nama                              : Anjar Hardiena
Tempat, Tanggal Lahir    : Banjarmasin, 10 Mei 1977
Negara Asal                    : Indonesia
Terkenal sebagai            : Wirausahawan di bidang IT, Penemu Zencafe, Aktivis FOSS
Karya                              : Sistem Operasi Komputer ‘Zencafe’ dan ‘Adiva’, dll.
Anjar Hardiena lahir di Banjarmasin 10 Mei 1977. Beliau memiliki hobi ‘ngoprek komputer’ sejak masih duduk di bangku SMU. Saat ini beliau sedang menyelesaikan program S2 Sistem Informasi di Universitas Bina Nusantara. Pada tahun 1999 mendirikan perusahaan Tazakka Maju Mandiri yang bergerak di bidang “Computer Maintenance & Networking Support”.
Dengan kemampuan entreprenaurnya, saat ini, selain mengelola perusahaan Tazakka Maju Mandiri, beliau juga mengelola perusahaan Online Corporate Identity yang bergerak di bidang ‘webdevelopment, webhosting, webforwarding & promotion Kit’ dan sebuah usaha warung internet dan telekomunikasi yang menggunakan Linux sebagai operating system. Berbekal pengetahuan teknologi informasi (information technology/ IT) dan dukungan dari banyak pihak, saat ini beliau terlibat sebagai tim sukses berdirinya AWALI (Asosiasi Warnet Linux Indonesia). Organisasi lain yang diikutinya adalah KPLI (Komunitas Pengguna Linux Indonesia). Di samping bergelut di dunia wirausaha, beliau juga menulis beberapa artikel  baik di linux.or.id, wiraswasta online, dan beberapa website lainnya.
Salah satu karya yang mengharumkan nama bangsa adalah sistem operasi Zencafe yang dibawahi oleh salah satu distro Linux yakni Zenwalk. Dan hingga saat ini, beliau juga telah merilis sistem operasi komputer yang keduanya yakni ‘Adiva. Bersama dengan beberapa anggota KPLI dan AWALI, beliau turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan ILC (Indonesia Linux Conference) di Bali 16 November 2008 lalu untuk terus menyebarluaskan pengguanaan system operasi komputer Linux di seluruh Indonesia

Onno W. Purbo.

Nama                           : Onno W. Purbo.
Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 17 Agustus 1962
Negara Asal                 : Indonesia
Terkenal sebagai         : Pakar dan Wirausahawan IT
Onno W. Purbo. lahir di Bandung, tanggal 17 Agustus 1962. Beliau adalah seorang tokoh yang kemudian lebih dikenal sebagai pakar di bidang teknologi informasi asal Indonesia. Beliau memulai pendidikan akademisnya di ITB (Institut Teknologi Bandung) pada jurusan Teknik Elektro tahun 1981. Enam tahun kemudian, beliau lulus dengan predikat wisudawan terbaik, kemudian beliau melanjutkan studi ke Kanada dengan beasiswa PAUME.
RT/RW-Net adalah salah satu dari sekian banyak gagasan yang telah dilontarkannya. Beliau juga aktif menulis dalam bidang teknologi informasi media, seminar, konferensi nasional maupun internasional. Sebagai seorang pakar IT beliau telah menerima beberapa penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional seperti:
-     1992, masuk dalam buku ‘American Men and Women of Science’ R.R.Bowker, NewYork,  Amerika Serikat.
-     1994, diberitakan dalam profil peneliti, Kompas 26 Desember 1994.
-     1996, menerima ‘Adhicipta Rekayasa’ dari Persatuan Insinyur Indonesia.
-     1997, menerima ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award dari ASEAN Federation of Engineering Organization (AFEO).
-     2000, masuk dalam buku ‘Indonesia abad XXI: di Tengah Kepungan Perubahan Global’ editor: Ninok Leksono, Kompas.
-     2002, Eisenhower Fellow dari Eisenhower Fellowship, Amerika Serikat.
-     2003, Sabbatical Award dari International Development Research Center (IDRC), Kanada.
-     2005, Ashoka (Amerika Serikat)
-     2008, menerima Gadget Award Exclusive Appreciation, dari majalah Gadget.
-     2008, menerima IGOS Summit 2 Award, dari Menkominfo atas semangat dan perjuangan menyebarluaskan pemanfaatan open source di Indonesia.
-     2008, masuk dalam buku ‘Indonesia 100 innovators’ Business Innovation Center.

Tn. Abdurrahman Rais

Nama : Abdurrahman Rais
Jenis Usaha : Jual Beli Emas
Alamat : Baledono Singodranan, Purworejo
Pendidikan terakhir : SMA
Abdurrahman Rais, lahir di Purworejo pada 28 november 1989. Dia adalah seorang mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purworejo jurusan Pendidikan Matematika semester 1. Dia sekarang berwirausaha jual beli emas. Latar belakang dia berwirausaha adalah untuk membantu orang tua nya yang juga sebagai seorang wiraswasta, selain itu dia juga ingin hidup mandiri (belajar berwirausaha). Motif lain di membuka usaha juga keinginan dia untuk mencari penghasilan sendiri dan rencana jangka panjang dia ke depan. Modal yang dibutuhkan dia untuk membuka usahanya bukan dari modal uang yang besar, melainkan dari kepercayaan orang tua nya yang memberikan perlengkapan yang dibutuhkan untuk usaha tersebut. Proses transaksi usahanya adalah dari konsumen yang menjual emas kepada dia kemudian dia jual lagi emas tersebut kepada pengepul emas. Keuntungan yang dia dapat dari harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga beli emas tersebut dari konsumen. Sehingga rata-rata perharinya dapat mencapai angka di atas Rp 50.000,00. Namun kesulitan dari usaha ini adalah salah spekulasi dia saat transaksi dengan konsumen yang mengakibatkan harga jual lebih rendah dari harga beli. Usaha ini telah dia tekuni selama 1 tahun sampai sekarang.


http://blog.math.uny.ac.id/andy666/2010/01/18/profil-wirausaha/

Ny. Sri Hartati

Nama : Sri Hartati
Jenis Usaha : Warung (sembako)
Alamat : Baledono Singodranan, Purworejo
Pendidikan terakhir : SMK
Sri hartati, lahir di Purworejo tahun 1979. Dia adalah lulusan dari sekolah menengah kejuruan dengan mengambil jurusan akuntansi. Sekarang dia bekerja sebagai seorang wirausaha (pedagang) dan mempunyai sebuah warung yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari (sembako). Latar belakang usahanya adalah dimulai dari ayahnya, H. Kaelani (alm) yang dahulunya adalah seorang pedagang keliling yang menjual dagangannya dari warung satu ke warung lain. Karena banyak dagangan yang masih tersimpan dalam rumah (gudang) yang belum dikelilingkan, maka beliau berinisiatif membuka sebuah warung, untuk menjual dagangan tersebut. Motif dari beliau membuka warung juga tidak lain adalah untuk menambah penghasilan karena beliau juga butuh biaya untuk anak-anak dan keluarganya. Modal yang dibutuhkan beliau saat itu bukan dari modal yang besar (uang/materi), saat itu beliau mengambil dagangan dari toko terlebih dahulu (stok barang), kemudian mengadakan perjanjian dengan toko tersebut dengan melunasi barang-barang tersebut apabila dagangan sudah terjual (jatuh tempo). Dengan memutarkan dagangan, beliau akhirnya mulai mendapatkan hasil. Warung beliau mulai mengalami kemajuan dan berkembang, sehingga beliau tidak lagi menjadi pedagang keliling. Setelah beliau meninggal, usahanya dilanjutkan oleh anaknya, Sri Hartati (faktor warisan/keturunan). Daripada mencari pekerjaan susah, ia melanjutkan usaha ayahnya yang sudah ada, sehingga dijadikannya usaha pokok dan akhirnya berkembang sampai sekarang. Rata-rata penghasilan perharinya dikatakan lumayan karena bisa mencapai angka diatas Rp 100.000,00. Warung tersebut telah berdiri selama 20 tahun sampai sekarang ini.